Monday, November 28, 2011

Perangkat yang Dibutuhkan

Membuat animasi membutuhkan peralatan. Dalam hal animasi berbasis foto ini, alat utamanya adalah kamera, baik yang analog maupun yang digital.

Kamera yang bagaimana? Sembarang kamera, asalkan bisa digunakan untuk menangkap objek menjadi foto, baik foto nondigital maupun foto berjenis digital.Hanya saja, kalau pakai kamera nondigital, Anda membutuhkan alat pemindai agar foto nondigital itu bisa diubah menjadi file digital. Jadi, lebih baik langsung saja ya menggunakan kamera digital.

Anda bisa menggunakan kamera digital seperti gambar di atas itu. Namun, bisa juga memanfaatkan fitur kamera di ponsel. Seandainya menggunakan kamera ponsel, perhatikan besaran resolusinya karena resolusi yang kelewat kecil tidak dapat menghasilkan foto yang cukup baik untuk dilihat mata. Padahal animasi kan selayaknya enak dilihat. Kamera ponsel terbatas juga dari segi jarak tangkapnya ke objek foto. Tambah jauh, tambah jelek hasilnya jepretannya. Perhatikanlah dua keterbatasan itu seandainya memanfaatkan kamera ponsel (tentunya tak perlu ekstra hati-hati begitu jika kamera ponsel Anda beresolusi tinggi).

Setelah kamera (yang disarankan kamera digital), apa lagi yang diperlukan? Anda membutuhkan program untuk mengolah foto-foto tadi. Di sini kita menggunakan Monkey Jam. Ini perangkat lunak yang bisa diunduh gratis--saya mengunduhnya via brothersoft.com. Situs itu akan memasang terlebih dulu program untuk mengunduh Monkey Jam. Setelah terpasang barulah Anda dapat mengunduh program animasi itu. Saya coba langsung unduh ke situs pemilik Monkey Jam, tapi rupanya situs milik David Perry itu dalam perbaikan. Anda tidak harus mengunduh via situs yang sudah saya sebutkan. Banyak situs lain menyediakan Monkey Jam. Silakan cari melalui Om Gugel atau Mbak Yayuk.

Nah, itulah perlengkapan pokok yang Anda perlukan.

Walaupun Monkey Jam program yang cukup sederhana sehingga mudah dipelajari, tetap saja Anda perlu menyisihkan waktu mempelajarinya. Untuk itulah blog ini saya buat. Selamat belajar dan mudah-mudahan menjadi  monkey-jammer! :)



Yuk, Belajar Monkey Jam

Monkey Jam adalah perangkat lunak untuk membuat animasi berbasis foto--istilahnya stop-motion animation. Kalau objek fotonya manusia, animasi ini disebut juga pixilation, istilah yang ditemukan oleh Norman McLaren.

Membuat stop-motion animation itu gampang. Pada dasarnya, prosesnya mencakup dua langkah: (1) menjepret serangkaian foto suatu objek dan (2) memasukkan foto-foto itu ke dalam program animasi, yang dalam hal ini adalah Monkey Jam. Hasilnya adalah suatu video animasi alias gambar bergerak.

Perhatikanlah, sebenarnya yang digunakan sebagai bahan dasar adalah foto, yag tentu saja tidak memperlihatkan unsur gerakan alias still photo. Namun, foto-foto itu, yang memotret objek yang sama, memberi kesan bergerak sebagaimana layaknya film. Kesan bergerak itu terjadi karena rangkaian foto tersebut disajikan secara cepat. Itu prinsip dasar dalam produksi animasi mana pun.

Supaya menjadi suatu animasi, foto-foto yang dijepret itu harus bercerita. Maksudnya, rangkaian foto tersebut mesti membangun suatu cerita. Oleh karena itu, sebelum jeprat-jepret, persiapkan dahulu ceritanya. Caranya ialah dengan membuat storyboard (alias papan cerita, yang tidak harus berwujud papan sungguhan karena umumnya menggunakan lembaran kertas).

Isi storyboard adalah cerita yang bakal dijepret. Biasanya orang membuat storyboard dalam bentuk gambar beserta penjelasan yang diperlukan kelak di lapangan ketika memotret. Dalam hal storyboard seperti itu, Anda harus bisa menggambar; paling tidak menggambar sketsa. Bagaimana kalau tidak bisa menggambar? Jangan khawatir, bikin saja storyboard verbal. Storyboard yang ini tidak menggunakan gambar, tapi menggunakan kata-kata saja untuk mendeskripsikan rencana pengambilan foto.

Jangan sampai Anda dan kelompok-kerja tidak menggunakan storyboard. Sebab membuat animasi (dan film) bukan kerjaan perseorangan, melainkan kerja kelompok. Dalam kerja kelompok Anda harus bertukar pikiran dengan kawan sekelompok. Mengomunikasikan gagasan dan rencana. Itu mustahil jika tanpa storyboard. Semakin terinci, semakin baik storyboard itu.