Monkey Jam adalah perangkat lunak untuk membuat animasi berbasis foto--istilahnya stop-motion animation. Kalau objek fotonya manusia, animasi ini disebut juga pixilation, istilah yang ditemukan oleh Norman McLaren.
Membuat stop-motion animation itu gampang. Pada dasarnya, prosesnya mencakup dua langkah: (1) menjepret serangkaian foto suatu objek dan (2) memasukkan foto-foto itu ke dalam program animasi, yang dalam hal ini adalah Monkey Jam. Hasilnya adalah suatu video animasi alias gambar bergerak.
Perhatikanlah, sebenarnya yang digunakan sebagai bahan dasar adalah foto, yag tentu saja tidak memperlihatkan unsur gerakan alias still photo. Namun, foto-foto itu, yang memotret objek yang sama, memberi kesan bergerak sebagaimana layaknya film. Kesan bergerak itu terjadi karena rangkaian foto tersebut disajikan secara cepat. Itu prinsip dasar dalam produksi animasi mana pun.
Supaya menjadi suatu animasi, foto-foto yang dijepret itu harus bercerita. Maksudnya, rangkaian foto tersebut mesti membangun suatu cerita. Oleh karena itu, sebelum jeprat-jepret, persiapkan dahulu ceritanya. Caranya ialah dengan membuat storyboard (alias papan cerita, yang tidak harus berwujud papan sungguhan karena umumnya menggunakan lembaran kertas).
Isi storyboard adalah cerita yang bakal dijepret. Biasanya orang membuat storyboard dalam bentuk gambar beserta penjelasan yang diperlukan kelak di lapangan ketika memotret. Dalam hal storyboard seperti itu, Anda harus bisa menggambar; paling tidak menggambar sketsa. Bagaimana kalau tidak bisa menggambar? Jangan khawatir, bikin saja storyboard verbal. Storyboard yang ini tidak menggunakan gambar, tapi menggunakan kata-kata saja untuk mendeskripsikan rencana pengambilan foto.
Jangan sampai Anda dan kelompok-kerja tidak menggunakan storyboard. Sebab membuat animasi (dan film) bukan kerjaan perseorangan, melainkan kerja kelompok. Dalam kerja kelompok Anda harus bertukar pikiran dengan kawan sekelompok. Mengomunikasikan gagasan dan rencana. Itu mustahil jika tanpa storyboard. Semakin terinci, semakin baik storyboard itu.
Membuat stop-motion animation itu gampang. Pada dasarnya, prosesnya mencakup dua langkah: (1) menjepret serangkaian foto suatu objek dan (2) memasukkan foto-foto itu ke dalam program animasi, yang dalam hal ini adalah Monkey Jam. Hasilnya adalah suatu video animasi alias gambar bergerak.
Perhatikanlah, sebenarnya yang digunakan sebagai bahan dasar adalah foto, yag tentu saja tidak memperlihatkan unsur gerakan alias still photo. Namun, foto-foto itu, yang memotret objek yang sama, memberi kesan bergerak sebagaimana layaknya film. Kesan bergerak itu terjadi karena rangkaian foto tersebut disajikan secara cepat. Itu prinsip dasar dalam produksi animasi mana pun.
Supaya menjadi suatu animasi, foto-foto yang dijepret itu harus bercerita. Maksudnya, rangkaian foto tersebut mesti membangun suatu cerita. Oleh karena itu, sebelum jeprat-jepret, persiapkan dahulu ceritanya. Caranya ialah dengan membuat storyboard (alias papan cerita, yang tidak harus berwujud papan sungguhan karena umumnya menggunakan lembaran kertas).
Isi storyboard adalah cerita yang bakal dijepret. Biasanya orang membuat storyboard dalam bentuk gambar beserta penjelasan yang diperlukan kelak di lapangan ketika memotret. Dalam hal storyboard seperti itu, Anda harus bisa menggambar; paling tidak menggambar sketsa. Bagaimana kalau tidak bisa menggambar? Jangan khawatir, bikin saja storyboard verbal. Storyboard yang ini tidak menggunakan gambar, tapi menggunakan kata-kata saja untuk mendeskripsikan rencana pengambilan foto.
Jangan sampai Anda dan kelompok-kerja tidak menggunakan storyboard. Sebab membuat animasi (dan film) bukan kerjaan perseorangan, melainkan kerja kelompok. Dalam kerja kelompok Anda harus bertukar pikiran dengan kawan sekelompok. Mengomunikasikan gagasan dan rencana. Itu mustahil jika tanpa storyboard. Semakin terinci, semakin baik storyboard itu.


No comments:
Post a Comment